Iklan

Iklan

Mahasiswa KKN UINSU Gerakkan Desa Bebas Sampah di Karo, Air Lindi Disulap Jadi Kompos Bernilai Ekonomi

24JAMNews
07 September 2026, 08:30 WIB Last Updated 2026-09-07T01:34:30Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini

SUMATERA UTARA | 24jamtop.com : Sebanyak 32 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) menginisiasi gerakan desa bebas sampah di Desa Sukatepu, Kecamatan Naman Teran, Kabupaten Karo.


Program tersebut diwujudkan melalui Seminar dan Pelatihan Pembuatan Kompos dari Air Lindi. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mahasiswa KKN untuk mendorong masyarakat mengubah persoalan sampah rumah tangga menjadi sesuatu yang memiliki manfaat ekologis sekaligus nilai ekonomi.


Tak sekadar memberikan pemahaman mengenai pemilahan sampah organik dan anorganik, mahasiswa KKN UINSU juga memberikan pendampingan kepada warga hingga tahap hilirisasi produk.


Materi yang diberikan mencakup teknik pengemasan, pembuatan label sederhana, pemasaran secara langsung, hingga pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi produk.


Gerakan tersebut dikemas melalui edukasi multidimensi dengan menghadirkan tiga perspektif utama.


Dari sisi ekoteologi, Wakil Sekretaris KKN, Sania Husna, mengajak masyarakat memandang kepedulian terhadap lingkungan bukan hanya sebagai kewajiban sosial, tetapi juga bagian dari tanggung jawab keimanan dan ibadah kepada Sang Pencipta.


Sementara dari aspek kesehatan, Sekretaris KKN Radika Hanny Syah bersama Bendahara Moniqa Astrid memberikan edukasi mengenai pentingnya memilah sampah sejak dari sumbernya, khususnya dari dapur rumah tangga.


Menurut mereka, pengelolaan sampah yang baik dapat membantu mengurangi potensi pencemaran sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi keluarga.


Sedangkan dari sisi teknis dan ekonomi, Ketua KKN Aulia Dirga Putra memberikan pelatihan mengenai pemanfaatan air lindi sebagai salah satu bahan dalam proses pembuatan kompos.


Selain itu, warga juga diperkenalkan dengan konsep Bank Sampah, sehingga sampah rumah tangga tidak hanya dipandang sebagai limbah, tetapi dapat dikelola dan memiliki nilai ekonomi.


Antusiasme warga semakin terlihat ketika kegiatan memasuki sesi praktik dan diskusi interaktif.


Mayoritas masyarakat Desa Sukatepu yang berprofesi sebagai petani memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berdiskusi mengenai pemanfaatan limbah, termasuk air lindi, dalam mendukung aktivitas pertanian.


Salah seorang warga, Adwart, mempertanyakan kandungan nutrisi yang terdapat dalam air lindi serta manfaatnya bagi tanaman.


Tim KKN menjelaskan bahwa karakteristik air lindi sangat bergantung pada sumber sampah dan proses penguraiannya. Karena itu, penggunaannya perlu dilakukan secara tepat dan tidak serta-merta diaplikasikan langsung ke tanaman.


Air lindi juga perlu dikelola dan diproses secara hati-hati agar tidak menimbulkan persoalan baru bagi lingkungan. Untuk pemanfaatan sebagai pupuk cair, penggunaannya harus memperhatikan pengenceran dan kondisi media tanam maupun tanaman.


Pertanyaan serupa disampaikan Wahid mengenai kemungkinan efek penggunaan air lindi terhadap tanaman.


Tim KKN menekankan pentingnya pengolahan dan penggunaan yang tepat, termasuk memperhatikan tingkat keasaman serta konsentrasi cairan sebelum diaplikasikan pada tanaman. Pendekatan tersebut diperlukan untuk menghindari risiko gangguan terhadap pertumbuhan tanaman.


Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN UINSU tidak ingin gerakan pengelolaan sampah berhenti pada kegiatan seremonial atau sekadar memberikan pengetahuan kepada masyarakat.


Mereka mendorong agar pengelolaan sampah dapat dilakukan secara berkelanjutan melalui sistem Bank Sampah dan pengembangan produk hasil pengolahan limbah.


Pendampingan mengenai pengemasan, pelabelan dan pemasaran menjadi bagian penting agar masyarakat memiliki gambaran bahwa pengelolaan sampah juga dapat dikembangkan menjadi aktivitas ekonomi produktif.


Mahasiswa KKN UINSU berharap masyarakat Desa Sukatepu dapat melanjutkan pengelolaan Bank Sampah secara mandiri setelah program KKN berakhir.


Gerakan tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun desa yang tidak hanya bersih dan sehat, tetapi juga mampu mengelola potensi lingkungan secara mandiri dan berkelanjutan.


Dari rumah tangga, perubahan dimulai. Dari sampah, peluang ekonomi dapat tumbuh. Dan dari desa, kesadaran menjaga lingkungan diharapkan menjadi gerakan bersama.@Yan

Komentar

Tampilkan