masukkan script iklan disini
LINGGA | 24jamtop.com : Harapan ratusan aktivis, tokoh masyarakat, dan warga Kabupaten Lingga untuk berdialog langsung dengan pimpinan daerah dalam momentum refleksi 23 tahun Kabupaten Lingga berujung kekecewaan. Bupati dan Wakil Bupati Lingga serta Ketua DPRD Lingga tidak tampak hadir dalam forum yang digelar di Gedung Nasional Dabo, Sabtu (10/10/2026).
Hingga acara berlangsung sekitar satu jam, kursi yang disediakan bagi para pimpinan daerah tersebut masih kosong. Bupati Lingga diwakili Asisten II Sekretariat Daerah Kabupaten Lingga, Zainal Abidin.
Dialog yang semula diharapkan menjadi ruang terbuka untuk menyampaikan aspirasi dan mengevaluasi perjalanan daerah itu justru diwarnai ketegangan saat memasuki sesi tanya jawab.
Suasana semakin dinamis ketika sejumlah pertanyaan kritis disampaikan, termasuk oleh Anggota DPRD Kabupaten Lingga, Said Yardiansyah. Situasi forum kemudian menjadi sorotan setelah Zainal Abidin meninggalkan lokasi sebelum diskusi berakhir.
Keputusan tersebut menuai kritik dari sejumlah masyarakat yang hadir. Salim, salah seorang peserta dialog, menilai pejabat yang mendapat mandat mewakili kepala daerah semestinya tetap berada dalam forum untuk mendengarkan aspirasi masyarakat, termasuk ketika menghadapi kritik dan perbedaan pendapat.
Menurutnya, forum refleksi hari jadi Kabupaten Lingga seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk membuka ruang komunikasi yang sehat dengan masyarakat, bukan sekadar agenda seremonial.
“Ini dialog 23 tahun Kabupaten Lingga, bukan arisan. Rakyat datang untuk didengar, bukan ditinggalkan. Jika kritik saja tidak sanggup dihadapi, bagaimana mau membangun Lingga,” ujar Salim.
Ia berharap ke depan pemerintah daerah dapat menunjukkan keterbukaan yang lebih besar terhadap kritik dan masukan masyarakat. Sebab, dialog publik semestinya menjadi sarana untuk mempertemukan berbagai pandangan demi mencari solusi atas persoalan yang dihadapi daerah.
Ketidakhadiran sejumlah pimpinan daerah dan berakhirnya keikutsertaan perwakilan bupati sebelum forum selesai pun menjadi catatan tersendiri dalam refleksi 23 tahun Kabupaten Lingga.
Momentum yang semestinya menjadi ruang evaluasi bersama itu kini menyisakan pertanyaan tentang sejauh mana aspirasi masyarakat mendapat tempat dalam proses pembangunan daerah.@Abdullatif


